FILSAFAT REFLEKSI DIRI
FILSAFAT REFLEKSI DIRI
Syaiful Anwar, S.Pd
17709251044
PPs Prodi Pendidikan Matematika B 2017
Terjemah and
menterjemahkan
Pertanyaan
ini dimulai dengan “umurmu berapa?’. Dalam menjawab pertanyaan dengan filsafat
ilmu, maka haruslah berpikir dan menterjemahkan dari kalimat pertanyaan itu.
Sehingga jawaban dari pertanyaan tersebut adalah “Tak terhingga”, karena
sebenar-benar filsafat adalah olah pikir. Umurmu yang baru saja itu terus
berganti, sehingga apabila umur itu disebutkan semenjak kau lahir hingga
sekarang maka ada tak hingga umur yang telah kau lalui.
Relfeksi diri
Setiap manusia
akan selalu menulis impian, cita-cita, hasil dari pikiran, dan lainnya. Impian
merupakan bagian dari bayangan(refleksi). Refleksi adalah pantulan dari segala
aktifitas atau keinginan yang sangat mendalam. sehingga yang ditulis manusia
bukan hanya impian, melainkan bayangan daripada pikiran manusia itu sendiri.
Awal permulaan
manusia bisa berpikir adalah dengan melalui alat panca indra. Salah satu panca
indra yang manusia miliki adalah telinga. Fungsi telinga sendiri adalah
mendengar, maka telinga dan bisa mendengar adalah satu satu bagian dari tesis.
Tesis itu adalah cipataan Tuhan. Lebih dari itu, melihat juga salah satu bagian
dari tesis.
Ketika manusia
berpikir atau memikirkan sesuatu, maka manusia itu sedang melakukan sintesis
akan anti-tesis dari tesis. Sehingaa apapun yang berada selain dari tesis,
menjadi anti-tesis.
Fenomena dan
naumena
Fenomena adalah
sesuatu yang terlihat, terasa oleh panca indra. Sedangkan naumena adalah di
luar naumena. Manusia adalah makluk fana, yang diberikan tubuh dan jiwa. Tubuh adalah
jasad yang terlihat, sementara jiwa, arwah, atau ruh adalah bagian yang tak
terlihat. Bagian yang terlihat atau tampak dikatakan fenomena, semetara yang
tak terlihat adalah naumena.
Manusia diberikan
keistimewaan yang lain yaitu berupa pikiran yang bertujuan untuk berpikir dan memikirkan.
Sehingga pikiran itu berada di atas sebuah kesadaran, kesadaran akan memikirkan
sebuah hal. Pikiran dan perasaan akan selalu ada pada manusia, sehingga ketika
manusia merasakan akan sesuatu hal, maka itu akan dikatakan intiuisi. Maka
manusia yang bijak dan baik adalah manusia yang berpikir dan berperasaan
terlebih dahulu akan sesuatu hal sebelum bertindak.
Diam dan
bergerak bersamaan
Manusia dapat
berbicara dan diam. Diam berarti equilibrium. Sebenar-benarnya hidup adalah
diam dalam keadaan bergerak, sedangkan sebenar-benarnya orang bijaksana adalah
bergerak dalam keadaan diam. Alasan manusia berbicara adalah untuk menampilkan
sebuah wilayah, kekuasaan, kepunyaan, dan kepemilikan. Berbicara juga menampilkan
bahwa ini adalah “rumah”. Yang dimaksud dengan rumah yang sebenar-benarnya adalah
perkataan. Karena setiap perkataan yang dikeluarkan adalah cerminan dari dalam
diri sendiri. Tuliasn adalah perkataan, sehingga tulisan adalah
sebenar-benarnya diri sendiri. Apabila kita melakukan plagiat, makasebenar-benarnya
jati diri kita adalah plagiat itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar