REFLEKSI PEWAYANGAN “MATINYA RAHWANA SANG RAJA RAKSASA ANGKARA MURKA”

REFLEKSI PEWAYANGAN “MATINYA RAHWANA
SANG RAJA RAKSASA ANGKARA MURKA”

Syaiful Anwar, S.Pd 
17709251044
PPs Prodi Pendidikan Matematika B 2017

Pertunjukkan wayang adalah pertunjukan yang bukan hanya menampilkan sisi menarik dari sebuah pertunjukkan. Dalam sebuah pertunjukkan wayang memiliki cerita yang menarik dan juga penuh dengan makna. Pertunjukkan wayang merupakan gambaran kehidupan dari masyarakat jawa, yang selalu selaras dari berbagi sisi kehidupan. Pertunjukkan wayang diawali dan diiringi oleh musik gamelan. Musik gamelan merupakan msuik tradisional yang mengandung kesenian yang tinggi, begitu menyejukkan dan menenangkan.

Pertunjukkan wayang menggunakan cahaya dan bayangan, dalam filsafat cahaya adalah langitnya sedangkan bayangan adalah buminya, cahaya dari langit yang kemudian akan membentuk bayangan. Itulah gambaran tentang jati diri manusia didunia. Apabila hati manusia ibaratkan cahaya maka perilaku adalah bayangannya, setiap orang dapat kita nailai dari perilakunya. Penggunaan bahasa dalam perwayangan adalah bahasa jawa yang berdimensi sangat tinggi, sangat halus, dan luhur. Ini menunjukkan bahwa budaya jawa adalah budaya yang tinggi dan luhur.

Untuk melakukan pertunujukkan wayang seorang dalang membutuhkan kemampuan yang tinggi dalam memainkan wayang. Gerakan-gerakan wayang sangat bagus layaknya hidup. Pembuatan wayang menampakkan detil yang sangat halus hingga setipis benang, ini menunjukkan bahwa sebagai manusia kita harus teliti, sabar, tekun dan ulet. Karena tanpa itu semua tidak akan ada detil yang mengagumkan seprti itu.

Diceritakan Rahwana sang raja alengkayang berwujud raksasa dengan sepuluh kepala murka setelah mengetahui kematian saudara dan anak buahnya di medan pertemperun menghadapi pasukan Rama, mulai dari Dewi Sarpakaneka, Patih Prahista, hingga Kumbakarna. Mengetahui pasukkannya luluh lantah setelah menghadapi Rama, rahwana berencana menghancurkan Rama dan bala pasukkanya. Di tengah keadaan yang kacau balau, alengka sudah hampir dikuasai oleh Rama, dengan kemarahan, kesombongan dan keserakahannya maju mencari Rama.

Singkat cerita Rama dan Rahwana bertempur di medan perang. Terjadilah pertempuran yang sangat dasyat, mengguncang bumi, menimbulkan angin ribut, dan membuat lautan bergejolak. Pertempuran tersebut menggambarkan pertempuran dahsyat antara kebikan melawan angkara murka.

Setelah pertempuran yang panjang dan dahsyat tersebut akirnya Rama berhasil menagalahkan Rahwana. Menggunakan pusaka andalahnnya Guwawijaya, Rama berhasil membunuh Rahwana. Dengan terbunuhnya Rahwana, terbebaslah Alengka dari cengkraman iblis yang dikuasai keserakahan.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah pewayangan matinya Rahwana adalah setiap perilaku yang jahat akan selalu hancur dengan kebaikan. Setiap kejahatan yang kita lakukan akan ada pertanggungjawabannya. Rahwana dalam pewayangan diwujudkan dengan raksasa berkepala sepuluh, diartikan ia memiliki kemampuan yang luar biasa di bidang ilmu dan pengetahuan, namun karena ia diliputi dengan sifat sombong dan serakah, maka dirinya tersesat dalam nafsu duniawi, akhirnya ilmu yang banyak itupun hanya ia gunakan untuk kepentingan dirinya sendiri. Karena nafsu, keserakahan dan kesombongan inilah yang akhirnya membuatnya terjatuh dalam kehinaan dan kehancuran.

Di sisi lain, Rama digambarkan sebagai tokoh yang menjunjung tinggi kebaikan. Dengan ilmunya yang tinggi dan kemurnian hatinya dia sanggup mengalahkan Rahwana. Disi kita belajar bahwa sebagai manusia kita harus ikhlas di hati dan fikiran. Degan begitu kita akan mencapai kesuksesan yang hakiki.


Semoga kita semua senantiasa menjadi orang-orang yang baik dan bermanfaat, serta dijauhkan dari sifat sombong dan serakah. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILSAFAT REFLEKSI DIRI

PONDAMEN ILMU DAN KEBIJAKSANAAN