PONDAMEN ILMU DAN KEBIJAKSANAAN

PONDAMEN ILMU DAN KEBIJAKSANAAN

Syaiful Anwar, S.Pd 
17709251044
PPs Prodi Pendidikan Matematika B 2017

Permisalan
Misal adalah fondamen atau dasar dalam setiap masalah. Setiap ilmu harus dilandasi suatu pondamen, karena tanpa pondamen yang kuat suatu ilmu akan diragukan dan sulit untuk diselesaikan permasalahannya. Ilmu yang awal adalah pondamen bagi ilmu yang selanjutnya, atau pondamen suatu ilmua adalah ilmu yang sebelumnya.

Misal dalam matematika
Permisalan di dalam matematika sangatlah pentting. Karena jika suatu masalah dalam matematika tidak ada permisalannya maka masalah tersebut akan menjadi rancu. Selain permisalan, juga di btuhkan kata kerja perintah untuk mengerjakan masalah tersebut.  Kemudian di dalam persoalan matematika juga ditemukan ilmu teleologi, yang berarti memperkirakan atau meramalkan masa depan. Ilmu teleologi di perkenalkan oleh Imanuel Kant.

Teleologi
Teleologi adalah segala ilmu macam yang berkaitan dengan memperkirakan masa depan. Teleologi adalah ilmu yang membahas tentang masa depan, seperti meramal atau memperkirakan yang belum terjadi, ini adalah salah satu teori dari Imanuel Kant. Untuk itu dibutuhkan banyak sekali bacaan. Semua yang ada dan yang mungkin adalah semua yang bisa dijadikan sebagai bahan bacaan. Sementara buku adalah sebuah mitos, yang memiliki makna yaitu membatasi.

Dua jalan
Dalam mengambil keputusan ada dua jalan yang dapat kita lalui, yaitu mengambil keputusan yang lain atau memaksakan pendapat. Memaksakan sebuah pendapat agar diterima orang lain akan sama maknanya dengan memaksakan ruang dan waktu. Dalam memaksakan ruang dan waktu itu ada toleransinya, yaitu mampu atau tidak nya kita dan lingkungan dalam menjalani keputusan itu. Untuk dapat menjalani keputusan itu dibutuhkan ilmu. Jika tidak mempunyai ilmu, maka keputusan yang dijalani itu akan gagal, sehingga kita akan terjebak dalam ruang dan waktu. Artinya kita memasuki ruang dan waktu yang tidak tepat, maka ketidak bahagiaan yang akan kita temui. Dimana ketidak bahagiaan itu akan menjadi momok yang menakutkan. 
Sebenar-benarnya ilmu berada di perbatasan, dan perbatasan itu menembus ruang dan waktu. Perbatasan yang menembus ruang dan waktu itu termasuk keragu-raguan atau skeptisism. Keragu-raguan berawal dari kebingungan yaitu skeptisism. Sehingga keragu-raguan itu mengakibatkan atau menimbulkan sebuah ketidak pastian. Itulah yang melandasi ilmu, pondamen subuah ilmu adalah ketidak pastian.

Filsafat antara kerja dan gender
Menurut pandangan filsafat, baik laki-laki atau perempuan adalah potensi. Potensi itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Potensi ada dua, yaitu potensi takdir dan potensi ikhtiar, atau potensi takdir dan potensi memilih. Potensi takdir(terpilih) adalah potensi yang diberikan Tuhan, sedangkan potensi memilih (iktiar) adalah potensi yang bisa dipilih dengan usaha (bisa diubah). Dalam mengembangkan potensi-potensi tersebut  harus selalu kita kendalikan dan batasi. Pikiran untuk memilih haruslah dikendalikan dengan doa kepada Allah, dengan tujuan agar tidak menyalahi kodrat yang telah terpilih oleh Allah.

Kebijaksanaan relatif
Menjadi orang yang absolut bijaksana atau bijaksana absolut adalah mustahil, karena hanya Allah yang Maha Bijaksana atau pemilik dari kebijaksanaan.  Namun demikian beberapa orang yang terpilih untuk bijaksana misalnya para Nabi dan Rasulullah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha menjadi bijaksana yang lebih baik. Bijaksana itu berbeda didunia timur atau barat. Bijaksana timur adalah bijaksana dalam memberi, seorang di dunia timur dianggap bijaksana apabila telah sanggup memberi, memberi ilmu. Akan tetapi bijaksana barat adalah bijaksana dalam mencari, seorang di dunia barat dianggap bijaksana apabila dia terus mencari ilmu.


Sebenar-benarnya bijaksana menurut filsafat, yaitu orang-orang yang berilmu. Sementara sebenar-benarnya bijaksana dalam spiritual, adalah dengan doa. Maka dapat dikatakan bahwa bijaksana itu berkesesuaian dengan ruang dan waktunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILSAFAT REFLEKSI DIRI

REFLEKSI PEWAYANGAN “MATINYA RAHWANA SANG RAJA RAKSASA ANGKARA MURKA”