Perjalanan Para Cetol
Menuju Akhir Dunia
Syaiful Anwar, S.Pd
17709251044
PPs Prodi Pendidikan Matematika B 2017
Para cetol yang berenang di
samudra luas menuju akhir dunia. Para cetol tergelepar-gelepar keudara,
dikarenakan air keruh samudra yang tercemar. Sebagian cetol berusaha mencari
air segar samudra yang semakin sulit untuk diperoleh, karena polusi yang semakin
mengotori samudera. Para cetol mengalami disorientasi pada kerajaannya, yaitu
kerajaan cetol.
Manusia diibaratkan para cetol
berenang di samudera menuju akhir dunia, samudera tersebut adalah kehidupan.
Manusia semakin gila diakhir zaman dikarenakan polusi-polusi kehidupan
yang meracuni berbagai sendi kehidupan, sehingga berakibat manusia mengalami
disorientasi, intoleransi, radikalisme dan berbagai macam dampak negatif
lainnya. Walaupun begitu, masih ada sebagian manusia beruntung yang mencari,
berikhtiar dalam mencari kebenaran dan ilmu.
Pada kehidupan zaman sekarang, cetol
menganut filsafat bahasa atau filsafat analitik. Karena filsafat bahasa maka
semuanya adalah bahasa. Cetol adalah bahasa, maka sebenar-benarnya cetol adalah
bahasanya, dan sebenar-benarnya cetol itu tulisannya. Maka dari itu jangan
sampai melakukan plagiat, maka cetol itulah sebenar-benarnya berjatidiri
plagiat.
Para cetol masih terus berenang
menuju akhir dunia, mengarungi laut kehidupan dari waktu kewaktu, beralaskan
bumi beratapkan langit. Saat ini para cetol telah sampai di samudra pos-pos
modern. Melihat kebelakang para cetol sudah sangat jauh dan mendekati akhir
dunia. Berawal dari 2000 tahun sebelum masehi, pada masa sebelum Socrates.
Pada awal mula perjalanan para cetol,
cetol sangat terheran-hran dengan apa yang ada di luar dirinya. Apa yang
sebenarnya di luar diri cetol, terbuat dari apakah semesta itu dan semua
objek-objek fisik. Beranjak dari objek-objek fisik, para cetol mulai berfikir
tentang diluar fisik, yaitu metafisik. Beranjak dari sana para cetol yang
kebingungan mulai berpikir mengetahui berbagai hal.
Istilah isme muncul dibenak para cetol.
Isme dalam cangkupan filsafat berarti pusat. Maka hati-hati, karena isme itu
pusat, jadi kalau humanisme berarti pusatnya di manusia, kalau manusia menjadi
pusatnya maka di mana kedudukan tuhan. Semua isme berawal dari objeknya. Jadi
dalam mempelajari filsafat dari sisi objeknya, objeknya ada dimana kemudian
sifatnya seperti apa.
Ilmu langit dan bumi, apabila
diibaratkan langit itu diatas bumi itu di bawah, maka sebenar-benarnya ilmu itu
langit ketemu bumi atau bumi menggapai langit. Langit itu berbeda dengan bumi,
kalau di langit objek kebenaran tunggal, sedangkan dibumi jamak atau plural.
Jadi filsafat yang menggambarkan keadaan bumi itu pluralism. Sedangkan monoism
atau monism ialah filsafat yang menggambarkan keadaan di langit.
Dibumi objek kebeneran bersifat
plural, semakin tinggi kelangit semakin mengerucut. Diatas langit sifatnya
ideal, jadi idealism. Diatasnya lagi absolut, maka sebenar-benarnya perinsip
absolut itu milik tuhan, yaitu kuasa tuhan. Sedangkan cetol itu bersifat
relatif. Seperti halnya hukum cetol itu relatif, dan hukum tuhan absolut. Maka
setinggi-tingginya ilmu itu adalah spiritualism.
Maka sepiritual itu turun
kelogika menjadi pikir, karena itu filsafat merupakan ilmu olah pikir. Maka
dari pikiran itu diatasnya lagi ada doa, yaitu memikirkan seberapa jauh kita
berdoa. Maka setinggi-tingginya pikiran cetol itu melayang harus berlandaskan
doa, karena kalau sampai putus tidak bisa kembali.
Kalau di langit itu perinsip,
maka di bumi itu bayangan. Maka semua yang ada di bumi itu bayangan langit.
Maka sebenar-benarnya cetol itu adalah bayangan dari perinsip. Sebagai contoh
seorang cetol perempuan dapat pergi merantau ke negeri orang mencari air segar
kehidupan, hal itu adalah bayangan dari perinsip keluarga cetol tersebut.
Maka sebenar-benarnya hidup itu
pikirkanlan kenyataanmu itu, dan wujudkanlah pikiranmu. Pikiran itu bersifat
logis, maka filsafatnya nya yaitu logicism. Sedangkan kenyataan itu bersifat
real, maka realism.
Menurut Plato, ilmu itu sudah
selesai diciptakan dan komplit dari awal perjalanan cetol. Hanya saja kapan
para cetol dapat menemukan ilmu tersebut. Tubuh merupakan hambatan bagi para cetol,
karena sebenar-benarnya ilmu itu pikiranmu, itu menurut Plato.
Berbeda dengan Plato, muridnya
sendiri yaitu Aristoteles menentang pendapat tersebut. Menurut Aristoteles
sebenar-benarnya ilmu itu kenyataan.
Dalam pikiran itu identitas,
sedangkan kenyataan itu bersifat kontradiksi. Yang dimaksudkan dengan identitas
adalah apel=apel, bola=bola, aku=aku, a=a. Sedangkan yang dimaksud dengan
kontradiksi adalah apel≠apel, ini dimaksudkan bahwa tidak ada apel yang sama
didunia, setiap apel pasti berbeda dari yang lainnya. Bola≠bola, ini
dimaksudkan bahwa bola yang satu berbeda dengan bola yang lainnya. aku≠aku ,
ini dimaksudkan bahwa aku tidak sama dengan aku, dikarenakan sebelum aku
selesai menunjuk diriku, diriku sudah berubah dari diriku yang tadi menjadi
diriku yang sekarang. a≠a, ini dimaksudkan bahwa setiap huruf meliki perbedaan,
perbedaan bentuk, tempat, waktu dan lain-lain.
Dalam filsafat, realism merupakan
dunia anak-anak, dan logicism merupakan dunia orang dewasa. Dunia logicism
adalah dunia pengandaian, pengandaian dapat diperoleh dari abstraksi dan
reduksi benda dari dunia realicism atau murni dari pikiran para cetol. Logicism
itu diedealisasi dengan pikiran yang bersifat logis. Logis adalah bersifat
analitik. Sedangkan dalam raelism kenyataan itu bersifat sintesik, membicarakan
tentang atmosfir perselingkungan.
Pikiran itu besifat analitik,
analitik itu logis, logis tidak harus ada atau tidak harus kongkrit. Makanya cetol
bisa membuat buku matematika, yang penting mulai dari definisi, aksioma, dan
teorema-teorema, dan semuanya tidak saling bertentangan. Yang penting logis,
yaitu konsisten. Berbeda dengan pikiran yang bersifat analitik, kenyataan itu
bersifat kontradiktif.
Pikiran itu selain bersifat
analitik juga bersifat apriori, sedangkan kenyataan itu bersifat apostriori.
Yang dimaksud dengan apriori bahwa para cetol dapat mengetahui sesuatu tanpa
mengalaminya terlebih dahulu. Contohnya Nasa dapat menghitung seperti apa
keadaan permukaan Pelanet Mars walaupun belum pernah ada yang mnginjakkan kaki
di Mars. Sedangkan apostriori itu paham setalah mangalami, melihat, mendengar,
atau merasa, itulah kehidupan anak kecil.
Tempatkan apriori dan apostriori
pada tempat yang semestinya. Jangan mencari jodoh dengan apriori, belum pernah
ketemu sudah paham, bisa ditipu, ditinggal, dll. Maka dari itu hati-hati dalam
menempatkan apriori dan apostriori.
Kembali lagi membahas kehidupan cetol
yang masih berenang di samudera kehidupan. Setelah perjalanan jauh berenang di
samudera yang mengalami gejolak, antara logicism dan realism, kurang lebih
selama dua abad munculah juru damai. Juru damai yaitu Immanuel Kant, dia
mengambil sebagian dari logicism dan realism, sebenar-benarnya ilmu adalah
sintetik dan apriori.
Namun sebelum datangnya sang juru
damai, para cetol harus melewati samudra kegelapan. Samudra kegelapan di mana
hilangnya hak berfikir, di mana kebenaran didominasi gereja. Dimana siapapun
dilarang mengibarkan bendera dan mengutarakan pikiran tanpa izin gereja. Salah
satu hal nya yaitu teori geosentris dari gereja, dimana bumi sebagi pusat
tatasurya.dan setiap cetol harus patuh, dan dilarang mempertanyakan teori
tersebut.
Apabila samudera kegelapan
dipandang sebagai sintesis, maka akan muncul anti tesis, dari tesis dan
antitesis merupakan proses bersintesis. Maka munculah Aguste Comte bersama
filsafatnya yaitu positivism. Dimana dalam filsafatnya, apabila membangun dunia
jangan dilandasi oleh agama, karena agama itu tidak rasional. Berdasarkan
positivism maka lahirlah metode saintifik, dimana metode ini muncul dari
memarginalkan agama.
Maka dari itu berfilsafat harus
dilandasi oleh agama, apabila tidak, maka kejadian yang dialami oleh Aguste
Comte akan terulang. Dimana dia tersesat diatas ilmu, ibaral layang-layang yang
terbang tinggi putus talinya, hilang entah kemana.
Kembali ke perjalanan para cetol
yang semakin dekat dengan akhir dunia. Setelah munculnya positivism mulailah
para cetol memasuki samudera yang baru, samudera pos-pos modern. Yaitu samudera
yang dipenuhi dengan polusi-polusi dan kekacauan, yaitu samudera yang saat ini
sedang dilalui oleh para cetol. Pos-pos modern ini menciptakan dunia
kontemporer.
Sementara itu Indonesia yang dari
dahulu berlandaskan pancasila di gempur habis-habisan pagi siang, sore hingga
malam oleh pos-pos modern untuk meruntuhkan landasan pancasila dan mengganti
dengan landasan pos-pos modern. Sedikit demi sedikit sudah banyak yang
kehilangan landasannya secara tidak sadar, filsafat pos-pos modern masuk
melalui semua media, buadaya, bahasa, dan masih banyak lagi. Hal ini terjadi
karena agama sudah dimarginalkan, baik secara sadar maupun tidak sadar.
Kejadian pada dunia kontemporer
saat ini sudah diramalkan oleh seorang resi, bernama Resi Gumtama, dimana konon
katanya perkataan dari Resi Gutama dapat menjadi kenyataan. Resi Gutama
memiliki istri yang sangat amat cantik bernama Dewi Windrarti, mereka memiliki
3 orang anak, Dewi Anjani, Guarsa, dan Guarsi. Pada suatu ketika ada seorang
dewa yang terbang melintas bumi melihat Dewi Windrarti dan terpesona dengan
kecantikannya, sehingga dewa tersebut memberikan hadiah yaitu cupumanik astagina
untuk mendapatkan hati Dewi Windrarti. Singkat cerita terjadilah sekandal jepit
di keluarga Resi Gutama.
Dewi Windrarti yang sangat
tertarik dengan cupu tersebut, lupa akan segalanya, lupa makan, lupa mandi,
lupa kewajibannya sebagai istri. Hingga akhirnya dia dipanggil suaminya Resi
Gutama tapi hanya diam saja. Singga Resi Gutama marah dan mengatakan bahwa Dewi
Windrarti sudah tidak pantas lagi menjadi seorang istri, karena lupa kewajiban,
dan diam saja seperti patung. Maka seketika itu Dewi Windrarti menjadi patung.
Resi Gutama membuang cupu
tersebut kedanau, dan ketiga anaknya memperubutkannya. Karena sibuk bererbut
cupu tersebut hingga tidak terasa tabiat mereka seperti seekor monyet, dan
berubahlah mereka menjadi monyet. Sehingga Guarsa dan Guarsi diberi nama baru
yaitu Subali dan Sugriwa, sedangkan Dewi Anjani tetap bernama Dewi Anjani.
Dari cerita tersebut sama persis
dengan kejadian pada dunia kontemporer sekarang ini. Para cetol hanya diam
diepan gadget atau smartphone lupa makan, lupa mandi, lupa segalanya sama
seperti patung, maka benar adanya bahwa gadged atau smartphone mematungisasi cetol
dunia. Para cetol yang bermain gadget atau smarphone menggelepar-menggelepar
mengalami disorientasi sama seperti ketiga anak Resi Gutama.
Dunia kontemporer sedikit banyak
telah mengubah dasar dari Idonesia yaitu Pancasila. Banyak para cetol yang
menyimpang dari Pancasila, bahkan termasuk para pejabat cetol. Kabinet
kerja-kerja-kerja tidak seimbang seperti Pancasila yang seharusnya kabinet
doa-pikir-kerja. Ini menunjukan bahwa Indonesia sedikit banyak sudah mengikuti
pos-pos modern.
Dalam perjalanan para cetol
menuju akhir dunia, sejatinya para cetol sedang melakukan sintesis menghasilkan
timeline kehidupan akhir zaman, jadi kalau ada cetol yang menikah itu
timeline dari mengapai akhir zaman. Cetol bersama dengan semua mahluk,
melakukan sintesis menuju akhir zaman.
Komentar
Posting Komentar