DASAR LANDASAN DALAM BERFILSAFAT
DASAR LANDASAN DALAM BERFILSAFAT
Syaiful Anwar, S.Pd
17709251044
PPs Prodi Pendidikan Matematika B 2017
Fondamen
Fondamen dari
segala sesuatu adalah sebabnya. Fondamen adalah landasan bagi setiap sesuatu.
Sebab dan akibat itu adalah proses ada pengada dan mengada. Dalam fikiran
manusia itu subjektif, maka sebab dan akibat yang terjadi juga subjektif. Dalam
menentukan sebab kita harulah fokus, karena sebab yang terpilihlah yang akan
terjadi akibatnya, sedangkan sebab yang lain akan masuk dalam epoche.
Epoche adalah
komponen metode fenomenologi. Epoche adalah gudang ingatan manusia, dimana
semua yang tidak dipakai akan masuk kedalamnya. Sadar atau tidak manusia selalu
menggunakan epoche, karenanya manusia bisa fokus.
Inti dari sebuah
fenomenologi ada dua, yaitu abstraksi dan idealisasi. Abstraksi itu memilih,
mampu memilih satu bentuk yang bisa menampilkan satu dari antara sifat yang
ada, maka sisa dari sifat lainnya sudah disimpan didalam epoche. Apabila
manusia tidak dapat menggunakan epochenya dengan baik maka manusia tidak akan
bisa mengambil keputusan, terombang ambing dengan segala sifat yang ada.
Objektif
Manusia itu
sulit membedakan antara mengerti dan tidak mengerti, maka dari itu
dibutuhkannya komunikasi dengan orang lain. komunikasi dengan orang lain akan
membantu kita mengetahui apakah kita mengerti ataukah belum. Maka dari itu
pentingnya seorang pengajar, pembimbing dan pendidik, untuk mengingatkan kita
apakah kita sudah mengerti ataukah belum. Jika manusia itu telah mengeti maka
gunakanlah hal tersebut untuk hal yang baik, karena hal yang buruk menunjukkan
bahwa manusia itu sebenarnya tersesat. Manusia yang tersesat adalah yang
sebenar-benarnya tidak mengerti.
Jika ingin
mengetahui batasan seorang manusia, maka manusia itu harusnya sering bergaul
dengan manusia lainnya dengan melakukan hubungan antar manusia lainnya amak
manusia itu sudah melakukan hermeunetika. Sebenar-benarnya hidup adalah
hermeunetika (interaksi/bersilaturrahmi).
Olah pikir
Sebenar-benarnya
ilmu filsafat adalah ilmu olah pikir dan bahasa, sedangkan ilmu sastra atau
bahasa adalah ilmu yang mengolah pikiran dan tutur bahasa.Yang membedakan
keduanya adalah filsafat itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Namun jika
sudah membatasi dirinya dengan makna kedua ilmu tadi, maka manusia menjadi
berhenti akan pemikiran dan pernyataan yang ada maka itu menjadi sebuah mitos
(terhalang oleh ruang dan waktu untuk berpikir lebih dalam akan makna yang
ada). Maka dari itu dalam menggapai filsafat yang harus kita lakukan adalah
baca, baca, dan baca. Membaca yang ada dan yang mukin ada. Disaat manusia bisa
membaca, mengolah pikiran dan menjadi bingung. Dengan bingung manusia tersebut
telah menemukan awal dari sebuah ilmu.
Percaya Tuhan
adalah dengan berdoa
Seorang manusia
yang percaya akan Tuhan maka ia akan selalu berdoa, berdoa yang baik adalah
menyebut nama Tuhan. Jika seorang muslim, maka muslim yang sedang ataupun akan
berdoa pasti akan menyebut nama Allah SWT. Dengan menyebut nama Allah SWT, maka
tidak akan ada jarak antara Allah dan makhluk, karena tidak ada jarak maka doa
yang dipanjatkan menjadi dekat derajatnya dengan Allah SWT. Jika pun doa kita
tak terdengar (doa dalam hati) tetapi Allah SWT mampu mendengar doa itu, karena
Allah itu Maha Mendengar. Jika ingin dekat dengan Allah SWT, maka ikuti aturan
atau hukum yang di tetapkan Allah SWT, dan jauhi larangan yang sudah Allah SWT
tetapkan pula. Ada cara-cara atau adab dalam berdoa, maka ikuti cara atau adab
tersebut jika ingin berdoa dengan khusyu’ dan doa diijabah (dikabulkan).
Kebahagiaan
Bahagia itu
didefinisikan sesuai dengan ruang dan waktu. Maka konsep bahagia itu adalah
manusia itu sendiri yang memutuskan. Karena bahagia itu sesuai dengan ruang dan
waktu, maka manusia itu sendiri yang mengetahui ciri atau sifat yang membuat
manusia itu bahagia. Bahagia yang sebenar-benarnya adalah sesuai dengan kodrat
ilahi.
Komentar
Posting Komentar