FILSAFAT DEWA KEHIDUPAN
FILSAFAT DEWA KEHIDUPAN
Syaiful Anwar, S.Pd
17709251044
PPs Prodi Pendidikan Matematika B 2017
Kehidupan
merupakan perjalanan, perjalanan hidup. Perjalanan hidup yang sebenar-benarnya
adalah yang memiliki arti, perjalanan hidup yang memiliki arti adalah filsafat.
Dewa
Dewa
dalam filsafat berbeda dengan pengertian dewa-dewa orang awam. Dewa dalam
filsafat adalah segala sesuatu yang memiliki kuasa terhadap sesuatu yang lain.
contohnya ayam itu dewa dari cacing, guru itu dewa dari murid, diri kita adalah
dewa dari sifat-sifat. Filsafat itu bodromoyo, atau bertemunya dewa dan yang
dikuasai. Yaitu manunggalnya wadah dan isi. Contohnya bersatunya pemimpin dan
rakyat, civitas dan pimpinan bersatu, manunggal mewujudkan cita-cita bersama
menggapai visi dan misi. Seperti seorang direktur dan mahasiswa harus manunggal
tekad, tujuan dan cita-cita, sehingga dapat maju bersama.
Dalam
ranah individu, manunggal dirinya sendiri yaitu tekad, doa, usaha, cita-cita
yang selaras satu sama lain. dalam bidang pembelajaran manunggalnya siswa dan
guru adalah inovasi tiada henti dalam belajar, yaitu berkompetensi. Siswa
belajar adalah ada, kemampuan siswa adalah mengada, dan yang diminminta adalah
pengada nya. Sehingga sebagai seorang pengada, dituntut untuk mengikuti
paradigmanya. Paradigmanya adalah The teacher is the researcher, the
student is a researcher. Sebenar-benar
hidup adalah meneliti penelitian, untuk menghasilkan. Sebenar-benar hidup
adalah bergerak. Apapun yang bersifat saintifik itu harus referensi dan
empiris, tidak bisa hanya salah satunya. Empiris yang paling mudah adalah studi
kasus dan survey.
Dewa mitos
Pentingnya komunikasi dalam kegiatan sehari hari.
Komunikasi itu memperkuat intuisi. Komunikasi dari dewa dan yang dikuasainya.
Segala yang yang ada di dunia itu tidak absolut. Dewa itu kuat dan stabil.
Segala sesuatu yang kuat dan stabil itu terancam mitos. Dewa itu berkuasa,
kuasa itu adalah mitos dan perbatasan, menembus ruang dan waktu. Mitos itu
adalah status quo, dan logos adalah anti status quo, karena mitos adalah tetap
dan logos adalah perubahan. Maka berbahaya jika kita hanya berpikir tetap,
berpikir itu harus ada perubahan. Keadilan dan keikhlasan sangat relatif.
Artinya hidup itu berhierarki dan berstruktur.
Seorang direktur tidak akan bisa menjadi direktur
jika tidak bisa menjadi rakyat. Maka sebenar-benar direktur dan rakyat itu
berhermenitika. Kerjakanlah diri kita masing-masing sebaik mungkin sesuai ruang
dan waktunya, maka semua akan menyaksikan. Mitos itu bersifat relatif. Di dunia
ini tidak ada yang bisa bersatu antara kata-kata dan perbuatan. Bahkan tidak
bisa saling mengejar. Sebenar-benar hidup itu adalah kontradiktif. Semua
omongan itu merupakan metafisik. Semua makna itu melekat pada konteksnya.
Komentar
Posting Komentar