Filsafat Epoche

Filsafat Epoche

Syaiful Anwar, S.Pd 
17709251044
PPs Prodi Pendidikan Matematika B 2017

Refleksi perkuliahan Filsafat Ilmu pada hari Kamis, 19 Oktober 2017 di Gedung Baru Pascasarjana UNY lantai 4 ruang 1. Bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Epoche adalah bagian dari fenomenologi. Fenomenologi adalah abstraksi dari sifat-sifat yang banyak. Sifat-sifat yang banyak tersebut adalah bagian dari fikiran manusia. Manusia dapat berfokus pada salah satu sifat yang ada, kemudian selain yang ia fokuskan diletakkan di epoche. Dengan kata lain epoche dapat diibaratkan sebagai tempat penyimpanan dalam fikiran yang tidak kita fokuskan. Maka dari itu sebenar-benarnya manusia itu selau menggunakan epoche, hanya manusia tidak menyadarinya. Hanya yang belajar dan mempelajari filsafatlah yang mampu menangkap dan memahaminya.

Epoche sangat penting dala kehidupan manusia. Manusia dalam kehidupannya selalu menggunakan epochenya. Karena epoche manusia dapat memilih, fokus, berkonsentrasi dan tidak bingung. Karena manusia telah melakukan pilihan, maka selain yang dipilih akan dimasukkan kedalam epoche. Sederhananya epoche adalah gudang fikiran untuk menempatkan segala sesuatu yang tidak dipikirkan.

Bila tidak ada epoche manusia akan bingung, dan tidak akan dapat mencapai tujuan. Manusia tidak bisa menentukan yang akan menjadi tujuannya, sehingga banyak sekali yang difikirkan dalam waktu yang bersamaan. Misalnya, engkau hendak pergi ke kampus untuk belajar filsafat. Jika engkau tidak fokus pada tujuanmu, bisa saja ditengah jalan kamu berbalik arah karena sesuatu. Mengambil jalan yang berbeda dari jalan menuju kampus. Ya mana mungkin tujuanmu bisa engkau capai kalau seperti itu. Itu artinya engkau belum cerdas dalam menggunakan epoche. Engkau masih mengalami kebingungan. Itu sangat berbahaya, karena bisa membuatmu mengalami disorientasi.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah, setelah kita menentukan tujuan kita, maka segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan tujuan itu masukkan kedalam epoche. Supaya kita dapat fokus menggapi tujuan, dan tujuan tersebut dapat tercapai. Untuk dapat menggunakan epoche yang baik dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman serta latihan, maka kita harus senantiasa belajar.

Batas kemampuan
Untuk mengetahui batas kemampuan manusia harus melakukan hermenitika kehidupan, yaitu terjemah dan menerjamahkan. Dalam berhermenitika, manusia saling berinteraksi, baik sesama manusia ataupuan terhadap lingkungan. Hermenitika adalah filsafat, kalau kita naikan dimensinya keranah spiritual menjadi silaturahim, dan bila kita turunkan dalam pembelajaran adalah interaksi belajar. Maka sebenar-benarnya memahami batasan diri adalah dengan berinteraksi.

Batasan diri dapat dipahami dengan pengalaman. Dari pengalaman maka batas kita akan terlihat dan tidak mungkin untuk meningkatkan batas dari kemampuan diri. Karena semakin tinggi ilmu dan semakin banyaknya pengalaman maka semakin meningkatkan batasan diri.

Filsafat bahasa
Filsafat itu adalah hidup, filsafat itu mencakup yang ada dan mungkin ada. Dari pengertian itu tercipta berbagai macam filsafat tergantung ruang dan waktunya, sesuai tingkatan ilmunya dan sesuai dengan pengalaman hidupnya. Filsafat itu cair, kita tidak boleh terpaku dengan hanya satu definisi filsafat, karena sebenar-benarnya mendifinisikan filsafat dengan satu definisi adalah mitos dalam filsafat itu sendiri.

Salah satu tujuan filsafat adalah membuka wawasan. Wajar apabila manusia bingung, karena bingung itu adalah tanda bahwa berpikir. Dengan terus berpikir, maka manusia dapat terus maju dan terhindar dari mitos.

Kesimpulannya bahwa filsafat itu memiliki takhingga definisi, tergantung dari siapa yang mendefinisikannya, waktu, dan tempat. Cara terbaik mempelajari filsafat adalah dengan metode hidup, karena hidup itulah kita bisa tahu filsafat. Filsafat itu mengalir bagaikan air sejalan dengan waktu, sesuai dengan ruang. Maka dari itulah kita harus terus membaca dan membaca, karena inspirasi dari bacaan adalah hasil dari kehidupan orang lain. belajar filsafat harus didasari dengan ikhlas hati dan fikiran, supaya kita tidak tersesat dalam ruang dan waktu, sombong dengan apa yang kita dapatkan. Maka dari itu filsafat harus disertai dengan terus memohon ampun dan doa kepada Allah SWT.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILSAFAT REFLEKSI DIRI

REFLEKSI PEWAYANGAN “MATINYA RAHWANA SANG RAJA RAKSASA ANGKARA MURKA”

PONDAMEN ILMU DAN KEBIJAKSANAAN